PENGARUH PENGUBAHAN MODAL KERJA TERHADAP PENINGKATAN LIKUIDITAS

Modal Kerja

Modal kerja sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan tingkat likuiditas perusahaan. Modal kerja dapat terlihat dari bagaimana perusahaan tersebut menjaga keseimbangan jumlah aktiva lancar dan jumlah hutang lancar agar dapat dipergunakan untuk menunjang operasi perusahaan. Sepanjang keseimbangan tersebut tercapai, maka modal kerja perusahaan tersebut dapat dikatakan baik dalam menentukan tingkat likuiditas perusahaan. Hal ini berlaku lebih penting bagi perusahaan yang sedang melakukan ekspansi dalam bisnisnya karena manajemen modal kerja yang baik akan menghasilkan laba yang tinggi.

2.1.1 Pengertian Modal Kerja

Dalam dunia usaha, peningkatan kegiatan usaha selalu menghadapi masalah-masalah pelik. Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh pimpinan atau pemilik perusahaan ialah menyediakan modal kerja yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan perusahaan.

Menurut Sundjaja dan Barlian (2002 : 155), “Modal kerja yaitu aktiva lancar yang mewakili bagian dari investasi yang berputar dari satu bentuk ke bentuk lainnya dalam melaksanakan suatu usaha, atau Modal kerja adalah kas/bank, surat-surat berharga yang mudah diuangkan (misal giro, cek, deposito), piutang dagang dan persediaan yang tingkat perputarannya tidak melebihi 1 tahun atau jangka waktu operasi normal perusahaan.”

Menurut Sawir (2005 : 129), “Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari.”

Menurut Weston dan Brigham yang dikutip oleh Sawir (2005 : 129), “Modal kerja adalah investasi perusahaan di dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), piutang dagang, dan persediaan.”

Menurut Aliminsyah dan Padji (2003 : 428), “Modal kerja adalah modal bersih yang merupakan selisih lebih antara aktiva lancar dengan utang lancar, untuk membiayai kegiatan usaha.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka dapat diketahui bahwa modal kerja adalah dana yang dipergunakan untuk biaya operasi perusahaan yang berupa kas, surat berharga yang mudah diuangkan, piutang dagang dan persediaan.

2.1.2 Konsep Modal Kerja

Untuk keperluan analisis, pengertian modal kerja di atas masih terlalu umum, sehingga perlu dijabarkan konsep-konsep modal kerja

Menurut Sawir (2005 : 130-131), “Berkaitan dengan pengertian modal kerja ini dapat dikemukakan beberapa konsep, yaitu :

  1. Konsep kuantitatif

Konsep ini berdasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva dimana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (Gross Working Capital).

  1. Konsep kualitatif

Apabila pada konsep kuantitatif modal kerja itu hanya dikaitkan dengan besarnya jumlah aktiva lancar saja, maka pada konsep kualitatif ini pengertian modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar atau utang yang harus segera dibayar. Dengan demikian, sebagian dari aktiva lancar ini harus disediakan untuk memenuhi kewajiban finansial yang segera harus dilakukan, di mana bagian aktiva lancar ini tidak boleh digunakan untuk membiayai operasi perusahaan untuk menjaga likuiditasnya. Oleh karenanya, modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bersih (Net Working Capital).

  1. Konsep fungsional

Konsep ini didasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan. Setiap dana yang digunakan dalam suatu periode akuntansi tertentu yang seluruhnya langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tetapi tidak seluruhnya digunakan untuk menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut. Sebagian dari dana itu dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan untuk periode-periode berikutnya (future income).”

Menurut Martono dan Harjito (2002 : 72-73), “ Untuk memudahkan dalam menetapkan elemen-elemen modal kerja, dikenal 3 konsep modal kerja, yaitu :

  1. Konsep kuantitatif

Modal kerja menurut konsep kuantitatif adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang disebut juga modal kerja bruto (gross working capital). Umumnya elemen-elemen dari modal kerja kuantitatif meliputi kas, surat-surat berharga (sekuritas), piutang dan persediaan.

  1. Konsep kualitatif

Pada konsep ini modal kerja dihubungkan dengan besarnya hutang lancar atau hutang yang segera harus dilunasi. Sebagian aktiva lancar dipergunakan untuk melunasi hutang lancar seperti hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak, dan sebagian lagi benar-benar dipergunakan untuk membelanjai kegiatan operasi perusahaan. Dengan demikian modal kerja menurut konsep kualitatif merupakan kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancar yang juga disebut modal kerja neto (net working capital).

  1. Konsep fungsional

Konsep fungsional mendasarkan pada fungsi dana yang digunakan untuk memperoleh pendapatan. Setiap dana yang dialokasikan pada berbagai aktiva dimaksudkan untuk memperoleh pendapatan (income), baik pendapatan saat ini (current income) maupun pendapatan masa yang akan datang (future income). Konsep modal kerja fungsional merupakan konsep mengenai modal yang digunakan untuk menghasilkan current income.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui bahwa konsep modal kerja terbagi atas tiga yaitu konsep kuantitatif, konsep kualitatif dan konsep fungsional.

2.1.3    Jenis – jenis Modal Kerja

Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam satu periode belum tentu sama, hal ini disebabkan oleh berubah-ubahnya proyeksi volume produksi yang akan dihasilkan oleh perusahaan. Perubahan itu sendiri kemungkinan disebabkan adanya permintaan yang tidak sama dari waktu ke waktu, seperti adanya permintaan disebabkan musiman. Oleh karena itu kebutuhan modal kerja juga bisa mengalami perubahan.

Menurut Taylor yang dikutip oleh Sawir (2005 : 132), “ Mengenai jenis-jenis modal kerja dapat digolongkan dalam :

  1. Modal kerja permanen

Yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen dapat dibedakan lagi dalam :

  1. Modal kerja primer

Yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada    perusahaan untuk menjamin kontinuitas usaha.

  1. Modal kerja normal

Yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk,      menyelenggarakan luas produksi yang normal dalam artian yang dinamis.

  1. Modal kerja variabel

Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja ini dibedakan antara :

  1. Modal kerja musiman

Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.

  1. Modal kerja siklis

Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

  1. Modal kerja darurat

Yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.”

Sedangkan menurut Riyanto (2001 : 61), “menyatakan mengenai jenis-jenis modal kerja sebagai berikut :

a.  Modal kerja permanen (permanent working capital) yaitu    modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus-menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Permanent working capital ini dapat dibedakan dalam :

  1. Modal kerja primer (primary working capital) yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
  2. Modal kerja normal (normal working capital) yaitu jumlah modal yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. Pengertian “normal” di sini adalah dalam artian yang dinamis.
  3. Modal kerja variabel (variabel working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara :
    1. Modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.
    2. Modal kerja siklis (cyclical working capital) yaitu modal kerja  yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena konyungtur.
    3. Modal kerja darurat (emergency working capital) yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka  diketahui bahwa jenis-jenis modal kerja terbagi atas modal kerja permanen dan modal kerja variabel. Dimana modal kerja permanen dapat dibedakan menjadi dua yaitu: modal kerja primer dan modal kerja normal. Sedangkan modal kerja variabel dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : modal kerja musiman, modal kerja siklis, dan modal kerja darurat.

2.1.4 Pentingnya Modal Kerja

Modal kerja yang cukup memang sangat penting bagi kehidupan perusahaan, tetapi berapakah modal kerja yang dianggap cukup tersebut? Tersedianya modal kerja yang segera dapat digunakan dalam operasi perusahaan tergantung pada tipe atau sifat dari aktiva lancar yang dimiliki seperti kas, surat berharga yang diperdagangkan, piutang atau persediaan.

Menurut Munawir (2004:116-117), “Tetapi modal kerja harus cukup jumlahnya dalam arti harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan, disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis atau efisien dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan, juga akan memberikan beberapa keuntungan lain, antara lain :

  1. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
  2. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.
  3. Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.
  4. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya.
  5. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para langganannya.
  6. Memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang dibutuhkan”.

Untuk menentukan besarnya dan cukupnya modal kerja yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan, Riyanto (2001:64), “Besar kecilnya kebutuhan modal kerja terutama tergantung kepada 2 faktor, yaitu :

  1. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja, dan
  2. Pengeluaran kas rata-rata tiap harinya.

Dengan jumlah pengeluaran setiap harinya yang tetap, tetapi dengan makin lamanya periode perputarannya, maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah makin besar.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui bahwa pentingnya modal kerja mempunyai manfaat yaitu melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja, memungkinkan perusahaan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajibannya tepat waktu, memungkinkan perusahaan memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani konsumen, memungkinkan perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para pelanggan dan memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien.

2.1.5 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Pimpinan perusahaan harus selalu aktif mengamati sumber-sumber dan penggunaan modal kerja agar perusahaan selalu tercukupi. Menurut Sawir (2005 : 140), “Perubahan-perubahan dari unsur-unsur non akun lancar (aktiva tetap, utang jangka panjang, dan modal sendiri) yang mempunyai efek memperbesar modal kerja disebut sebagai sumber-sumber modal kerja. Sebaliknya perubahan-perubahan dari unsur-unsur non akun lancar yang mempunyai efek memperkecil modal kerja disebut sebagai penggunaan modal kerja.

Apabila sumber lebih besar daripada penggunaan, berarti ada kenaikan modal kerja. Sebaliknya apabila penggunaan lebih besar daripada sumber, berarti terjadi penurunan modal kerja.

Menurut Riyanto (2001:353), “Kalau besarnya sumber persis sama dengan besarnya penggunaan, tidak ada efek netonya terhadap modal kerja, sehingga besarnya modal kerja tetap tidak berubah”.

2.1.5.1 Sumber-sumber Modal Kerja

Pada dasarnya, sumber modal kerja memiliki dua bagian pokok yang penting diantaranya bagian yang tetap dan variabel, dimana semakin besar jumlah modal kerja yang dibiayai dari investasi pemilik perusahaan akan semakin baik jaminan bagi kreditor.

Menurut Sawir (2005:141), “ Sumber-sumber modal kerja yang akan menambah modal kerja adalah :

  1. Adanya kenaikan sektor modal, baik yang berasal dari laba maupun penambahan modal saham.
  2. Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi.
  3. Ada penambahan hutang jangka panjang, baik dalam bentuk obligasi atau hutang jangka panjang lainnya”.

Menurut Munawir (2004:120-123), “ Pada umumnya sumber modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari :

  1. Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah net income yang nampak dalam laporan perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan. Jadi jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa laporan perhitungan rugi laba perusahaan tersebut. dengan adanya keuntungan atau laba dari usaha perusahaan, dan apabila laba tersebut tidak diambil oleh pemilik perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan yang bersangkutan.
  2. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek). Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan akan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan.
  3. Penjualan aktiva tidak lancar. Sumber lain yang dapat menambah modal kerja adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan.
  4. Penjualan saham atau obligasi. Untuk menambah dana atau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya”.

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka dapat disimpulkan bahwa modal kerja akan bertambah apabila aktiva lancar bertambah yang diimbangi dengan perubahan dalam sektor atau pos tidak lancar, serta memiliki dua bagian yang penting yaitu bagian yang tetap atau permanen serta modal kerja variabel yang jumlahnya bergantung pada aktivitas musiman dan kebutuhan di luar aktivitas normal.

2.1.5.2 Penggunaan Modal Kerja

Penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya modal kerja yang dimiliki perusahaan. Misalnya, penggunaan aktiva lancar untuk melunasi atau membayar hutang.

Menurut Sawir (2005:142), “Penggunaan-penggunaan modal kerja yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut :

  1. Berkurangnya modal sendiri karena kerugian, maupun pengambilan privasi oleh pemilik perusahaan.
  2. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang.
  3. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap.”

Menurut Munawir (2004:125-127),“Penggunaan-penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut :

  1. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan, meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan atau barang dagangan, supplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya. Pembayaran biaya operasi ini akan mengakibatkan terjadinya penjualan atau penghasilan perusahaan yang bersangkutan. Penggunaan aktiva lancar untuk pembayaran biaya operasi ini baru merupakan penggunaan modal kerja kalau jumlah biaya suatu periode lebih besar daripada jumlah penghasilannya (timbul kerugian).
  2. Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat berharga atau efek, maupun kerugian yang insidentil lainnya. Penggunaan modal kerja karena kerugian yang di luar usaha pokok perusahaan harus dilaporkan tersendiri dalam laporan perubahan modal kerja. Hal ini dimaksudkan agar laporan itu lebih informatif bagi para pembacanya. Adapun kerugian baik yang rutin maupun yang insidentil akhirnya akan mengakibatkan berkurangnya modal perusahaan.
  3. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya dana pelunasan obligasi, dana pensiun pegawai, dana ekspansi ataupun dana-dana lainnya. Adanya pembentukan dana ini berarti adanya perubahan bentuk aktiva dari aktiva lancar menjadi aktiva tetap.
  4. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva tidak lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.
  5. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang jangka panjang lainnya, serta penarikan atau pembelian kembali (untuk sementara maupun untuk seterusnya) saham perusahaan yang beredar, atau adanya penurunan hutang jangka panjang diimbangi berkurangnya aktiva lancar.
  6. Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadinya (prive) atau adanya pengambilan bagian keuntungan oleh pemilik dalam perusahaan perseorangan dan persekutuan atau adanya deviden dalam perseroan terbatas. Dengan kata lain adanya penurunan sektor modal yang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar atau bertambahnya hutang lancar dalam jumlah yang sama.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka dapat diketahui bahwa penggunaan modal kerja dapat mengalami penurunan dan perubahan bentuk yang disebabkan oleh beberapa faktor.

2.1.6 Manajemen Modal Kerja

Menurut Muslich (2000:143), “Manajemen modal kerja merupakan manajemen aktiva lancar dan pasiva lancar. Manajemen modal kerja memiliki beberapa arti penting bagi perusahaan. Pertama, modal kerja menunjukkan ukuran besarnya investasi yang dilakukan perusahaan dalam aktiva lancar dan klaim atas perusahaan yang diwakili oleh utang lancar. Keduanya, investasi dalam aktiva likuid, piutang dan persediaan barang adalah sensitif terhadap tingkat produksi dan penjualan”.

Menurut Syamsuddin (2000:201), “ Tujuan dari manajemen modal kerja adalah untuk mengelola masing-masing pos aktiva lancar dan hutang lancar sedemikian rupa, sehingga jumlah net working capital (aktiva lancar dikurangi dengan hutang lancar) yang diinginkan tetap dapat dipertahankan.”

Menurut Sawir (2005:135), ”Adapun sasaran yang ingin dicapai dari manajemen modal kerja adalah :

  1. Memaksimalkan nilai perusahaan dengan mengelola aktiva lancar sehingga tingkat pengembalian investasi marjinal adalah sama atau lebih besar dari biaya modal yang digunakan untuk membiayai aktiva – aktiva tersebut.
  2. Meminimalkan dalam jangka panjang biaya modal digunakan untuk membiayai aktiva lancar.
  3. Pengawasan terhadap arus dana dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari sumber utang, sehingga perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban keuangannya ketika jatuh tempo”.

Menurut Martono dan Harjito (2002:74), “Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya manajemen modal kerja yaitu :

  1. Aktiva lancar dari perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa memiliki jumlah yang cukup besar dibanding dengan jumlah aktiva secara keseluruhan.
  2. Untuk perusahaan kecil, hutang jangka pendek merupakan sumber utama bagi pendanaan eksternal.
  3. Manajer keuangan dan anggotanya perlu memberikan porsi waktu yang sesuai untuk pengelolaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan modal kerja.
  4. Keputusan modal kerja berdampak langsung terhadap tingkat risiko, laba, dan harga saham perusahaan.
  5. Adanya hubungan langsung antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan dana untuk membelanjai aktiva lancar.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui bahwa manajemen modal kerja dapat mengelola masing-masing pos aktiva lancar dan hutang lancar, untuk tujuan tertentu demi efisiensi dan efektivitas perusahaan.

2.2 Likuiditas Perusahaan

Suatu perusahaan yang ingin mempertahankan kelangsungan kegiatan usahanya harus memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban finansial yang segera dilunasi. Dengan demikian likuiditas merupakan indikator kemampuan perusahaan untuk membayar atau melunasi kewajiban-kewajiban finansialnya pada saat jatuh tempo dengan mempergunakan aktiva lancar yang tersedia.

Menurut Tangkilisan (2003:244), “Sebuah perusahaan menunjukkan likuiditas tinggi ketika saldo aktiva lancarnya adalah besar dalam hubungannya dengan saldo hutang lancarnya, dan perusahaan ini memiliki proporsi tinggi aktiva lancar dalam kas, surat-surat berharga, dan piutang, sebagai lawan terhadap persediaan atau biaya yang dibayar di muka.”

Meskipun semua aktiva dalam perusahaan mempunyai tingkat likuiditas, tetapi yang menjadi pusat perhatian adalah pada aktiva yang paling likuid, yaitu kas. Dengan demikian maka manajemen likuiditas menyangkut penentuan jumlah kedua jenis aktiva tersebut yang akan dimiliki perusahaan.

2.2.1    Pengertian Likuiditas Perusahaan

Likuiditas merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar yaitu kemampuan aktiva lancar untuk memenuhi kewajiban lancarnya bila diperlukan. Untuk mempertahankan likuiditas perusahaan yang pertama harus diperhatikan adalah jangka waktu pemakaian dana dalam perusahaan atau berapa lama dana tersebut diperlukan dalam perusahaan.

Menurut Riyanto (2001:26), “ Likuiditas badan usaha berarti kemampuan perusahaan untuk dapat menyediakan alat-alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kewajiban finansiilnya pada saat ditagih. Apabila kemampuan membayar tersebut dihubungkan dengan kewajiban finansiil untuk menyelenggarakan proses produksi, maka dinamakan ‘likuiditas perusahaan’.”

Menurut Syamsuddin (2000:41), “Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.”

Menurut Aliminsyah dan Padji (2003 : 416), “Likuiditas adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang harus segera dibayar dengan harta lancarnya.”

Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005 : 114), “Likuiditas adalah ratio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui bahwa likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek.

2.2.2 Rasio Likuiditas

Untuk mempertahankan likuiditas perusahaan, harus diperhatikan jangka waktu pemakaian dana perusahaan atau berapa lama dana tersebut diperlukan dalam perusahaan. Untuk mengetahui apakah prinsip waktu tersebut dijalankan oleh suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menghitung rasio likuiditasnya.

Menurut Munawir (2004:64), “Ratio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa ratio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka ratio tersebut dibandingkan dengan angka ratio pembanding yang digunakan sebagai standar.”

Menurut Keiso et.al (2007:247), “Rasio likuiditas adalah mengukur kemampuan jangka pendek perusahaan untuk membayar kewajibannya yang jatuh tempo.”

Menurut  Darsono dan Ashari (2005 : 74), “Ratio likuiditas adalah rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek.”

Menurut Hanafi dan Halim (2005:79), “Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap hutang lancarnya”.

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui bahwa rasio likuiditas adalah alat ukur kemampuan perusahaan dalam membayar pinjaman jangka pendeknya pada saat jatuh tempo atau memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

2.2.3    Jenis-jenis Rasio Likuiditas

Ada beberapa rasio likuiditas yang dikemukakan para ahli yang dapat digunakan sesuai dengan kepentingan para pemakai informasi laporan keuangan.

Dalam menghitung rasio likuiditasnya, Sawir (2005:8-10) mengemukakan beberapa cara sebagai berikut:

“1.       Current Ratio

Pada umumnya perhatian pertama dari analisis keuangan adalah likuiditas. Apakah perusahaan mampu memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo? Rasio likuiditas yang umum digunakan adalah current ratio.

Current Ratio merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek karena rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo utang.

Current  Assets

Current Ratio  =

Currents Liabilities

Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas. Sebaliknya suatu perusahaan yang current ratio-nya terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan memperoleh  laba perusahaan.

Dengan mengetahui berapa lama perusahaan telah mengalami current ratio yang kurang memuaskan, keadaan perusahaan sekarang dapat disimpulkan apakah dapat dianggap normal atau tidak. Current ratio yang tinggi bisa disebabkan oleh kondisi perdagangan yang kurang baik atau manajemen yang bobrok.

  1. 2. Quick Ratio

Alat ukur yang lebih akurat untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan adalah quick ratio. Rasio ini merupakan perimbangan antara jumlah aktiva lancar dikurangi persediaan dengan jumlah hutang lancar. Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah, sering mengalami fluktuasi harga, dan unsur aktiva lancar ini sering menimbulkan kerugian jika likuidasi. Jadi rasio cepat lebih baik dalam mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio cepat yang umumnya dianggap baik adalah satu”.

Current Assets – Inventory

Quick Ratio =

Current Liabilities

  1. 3. Cash Ratio

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan membayar hutang lancarnya dengan cash atau yang setara cash”.

Cash + Marketable Securities

Cash Ratio =

Current Liabilities

2.3 Hubungan Modal kerja Terhadap Likuiditas Perusahaan

Pada setiap perusahaan modal kerja mempunyai  hubungan yang saling terkait dengan likuiditas, karena dengan adanya modal kerja maka perusahaan dapat memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya dimana modal kerja ini digunakan untuk menjalankan operasi-operasi perusahaan setiap harinya. Sedangkan likuiditas menunjukkan kemampuan dari perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang harus segera dipenuhi.

Menurut Keown yang dikutip oleh Djakman (2000:644), “Agar dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan berhasil diperlukan sejumlah modal kerja yang cukup, dimana pengelolaan modal kerja tersebut dapat menunjukkan keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas perusahaan”.

Besarnya modal kerja sebuah perusahaan berhubungan dengan berbagai aktivitas operasional dan finansial tanpa modal kerja yang cukup aktivitas bisnis perusahaan dapat terancam.

Menurut Riyanto (2001:25), “Masalah likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.”

Selanjutnya Riyanto (2001:26) menyatakan, “Likuiditas badan usaha dapat diketahui dari neraca pada suatu saat antara lain dengan membandingkan jumlah aktiva lancar di satu pihak dengan utang lancar di lain pihak, hasil perbandingan tersebut ialah apa yang disebut “current ratio” atau “Working Capital ratio”. Current ratio ini merupakan ukuran yang berharga untuk mengukur kesanggupan perusahaan untuk memenuhi current obligation-nya.”

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui semakin baik pengelolaan modal kerja maka semakin baik pula tingkat likuiditas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s